Lembaga Sensor Film
header
Rommy Fibri Hardiyanto

Lahir di Semarang, 14 Februari 1972. Lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini, tidak memilih membuka praktik dokter gigi, melainkan justru bergelut di dunia jurnalistik. Rommy pernah menjadi wartawan Majalah TEMPO, Produser Eksekutif Liputan 6 SCTV, Pemimpin Redaksi Tabloid Mingguan PRIORITAS, Direktur Harian Jurnal Nasional, dan Direktur News dan Produksi TV Muhammadiyah. Selain aktif di media massa, Rommy juga mengajar mata kuliah “Liputan Investigasi” di The London School of Public Relations (LSPR).

Buku-buku yang pernah ditulis diantaranya “Detik-detik Terakhir Saddam: Kesaksian Wartawan TEMPO dari Bagdad, Irak”, yang ditulis bersama Ahmad Taufik (Pusat Data dan Analisa TEMPO, 2008), “PanduanbagiJurnalisdalamMeliputPeristiwa Traumatik”, yang ditulis bersama Ray Wijaya dan Fetty Fajriati (Yayasan Pulih, 2005). Rommy juga meraih berbagai penghargaan, diantaranya Best Expertise Lecturer 2012 LSPR (2013), Anugerah Adiwarta Tabloid Mingguan Prioritas untuk kategori Foto Jurnalistik Feature Terbaik (2012), “Jurnalis Jakarta Award” Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta untuk kategori “Liputan Internasional” (2003), Nominasi “Lorenzo Natali Prize: Excellence in Reporting Human Rights, Democracy and Development” oleh International Federation of Journalists (IFJ) dan Komisi Eropa, Brussels-Belgia (2002), Juara I Lomba Penulisan IPTEK Dupont Industries co (Indonesia) dan Kementerian Riset dan Teknologi RI (2001), dan sebagainya.

Pada 2003, bersama rekan-rekannya di AJI Jakarta dan pengacara muda yang tergabung dalam Komite Pembela Kebebasan Pers (KPKP), Rommy mendirikan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers di Jakarta.