Lembaga Sensor Film
header
KETUA LSF: MASYARAKAT BUTUH LEBIH BANYAK FILM ANAK

Jakarta – Setelah diselenggarakan webinar Sosialisasi Budaya Sensor Mandiri pada 9 Juli lalu, Lembaga Sensor Film akan kembali menyelenggarakan webinar dengan mengangkat tema berbeda. Bertepatan dengan momentum Hari Anak Nasional, LSF mengangkat tema webinar kali ini yaitu, “Upaya dan Strategi Pemajuan Film Anak di Indonesia.” Acara ini diselenggarakan pada Kamis (23/7) melalui ruang pertemuan daring.

Hadir sebagai pembicara utama yaitu Dede Indra Permana, Anggota Komisi I DPR RI. Dalam acara ini juga turut menghadirkan narasumber Dahnil Anzar Simanjuntak, Staf Khusus Kementerian Pertahanan RI; Wulan Guritno, Aktris/Produser; Naswardi Ketua Komisi III LSF RI; dan Fasli Jalal, Wakil Menteri Pendidikan Nasional 2010-2011/Rektor Universitas YARSI. Acara ini dibuka oleh sambutan dari Ketua LSF, Rommy Fibri Hardiyanto.

Dalam sambutannya Ketua LSF menjelaskan bahwa film tentu akan memberikan dampak negatif, bila ditonton tidak sesuai dengan klasifikasi usia, karena film yang diperuntukan bagi orang dewasa tidak akan cocok bila ditonton oleh anak-anak. Selama ini film yang ramah ditonton oleh anak-anak, hanya sekitar 10% - 14 % persen dari total film yang beredar.

“Pada dasarnya masyarakat butuh lebih banyak film anak. Film yang mengandung pornografi, kekerasan, perjudian, pelecehan, perendahan terhadap harkat dan martabat serta penodaan terhadap agama dan kemanusiaan, tentu akan memberikan dampak buruk bagi anak bila tidak ada proses penyensoran,” ujar Ketua LSF.

Ketua LSF juga menambahkan bahwa sasaran program Sosialiasi Budaya Sensor Mandiri ini adalah penyelenggara perlindungan anak, yang terdiri atas kementerian, lembaga dan organisasi masyarakat yang memiliki fokus terhadap perlindungan anak. Webinar ini diikuti oleh sekitar 320 peserta yang sudah melakukan registrasi melalui jalur pendaftaran resmi LSF. (*)

Komentar

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.