Lembaga Sensor Film
header
MEMILAH DAN MEMILIH TONTONAN ANIMASI UNTUK ANAK

Lembaga Sensor Film - Film tidak hanya sebagai media komunikasi massa tetapi juga sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini sangat erat kaitannya dengan tontonan ramah anak. Sebagai wujud kepedulian Lembaga Sensor Film (LSF) terhadap perkembangan tontonan ramah anak, khususnya film animasi yang sangat erat dengan keseharian anak, maka LSF menggelar webinar Budaya Sensor Mandiri yang kesepuluh dengan mengangkat tema “Film Kartun dan Animasi dalam Perspektif Psikologi Perkembangan Anak,” pada Rabu (25/11).

Wakil Ketua LSF, Ervan Ismail dalam sesi pembuka menjelaskan bahwa acara ini menggandeng organisasi PP Nasyiatul Asyiyah.

“Semoga kedepannya antara LSF dan PP Nasyiatul Asyiyah masih dapat terus saling bekerja sama untuk kegiatan-kegiatan lain yang bersifat literasi masyarakat,” harap Ervan Ismail.

Webinar yang diikuti oleh lebih dari 300 peserta ini dilanjutkan dengan sambutan oleh Diyah Puspitarini, Ketua Umum PP Nasyiatul Asyiyah yang menjelaskan bahwa film animasi atau kartun pada dasarnya dapat berdampak dua hal, yaitu dampak positif dan dampak negatif.

Menurut Desy Ratnasari yang hadir sebagai pembicara kunci, mengatakan bahwa film kartun cenderung diidentikkan dengan anak. Padahal banyak sekali film-film kartun sekarang yang kontennya tidak diperuntukkan untuk anak-anak.

“Orang tua adalah garda terdepan untuk memberikan pendampingan pada anak dalam memilah dan memilih tontonan bagi anak khususnya film kartun,” tutur Anggota Komisi X DPR RI tersebut.

Hal serupa juga disampaikan oleh Psikolog Anak, Seto Mulyadi bahwa film kartun ini sangat diminati oleh anak dan tentunya harus didampingi oleh orang tua agar dapat juga menanamkan nilai-nilai budaya pada anak sehingga apa yang disaksikan tidak hanya menjadi tontonan tetapi juga tuntunan.

Sesi diskusi dan paparan narasumber yang dipandu oleh moderator Dewi Mulyani, Ketua Umum PW Nasyiatul Aisyiyah Jawa Barat ini menghadirkan beberapa narasumber yang mumpuni dibidangnya antara lain Kiki Yulianti, Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan; Muhammad Hasbi, Direktur Pendidikan Anak Usia Kemendikbud RI; Ehwan Kurniawan, Deputi Kolaborasi Asosiasi Industri Animasi Indonesia; Seto Mulyadi, Psikolog Anak/Ketua LPAI; serta Naswardi, Ketua Komisi III LSF RI.

“Tantangan dalam dunia animasi saat ini adalah bagaimana memperbanyak produksi film animasi lokal agar menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Supaya banyak nilai-nilai ke-Indonesiaan dan budaya lokal bisa lebih dikenal oleh anak-anak Indoensia melalui film animasi lokal,” ujar Deputi Kolaborasi Asosiasi Industri Animasi Indonesia, Ehwan Kurniawan.

Ketua Komisi III LSF, Naswardi menjelaskan bahwa dalam proses penyensoran LSF terus melakukan sensor berbagai film animasi impor yang masuk ke Indonesia yang notabene tidak menganut nilai dan norma masyarakat Indonesia. Dalam konteks ini film kartun atau film animasi di tengah perkembangan industri animasi Indonesia bersaing sangat ketat dengan film animasi atau film kartun impor.

Peran orang tua dalam pendampingan anak terutama yang masih berusia dini ketika menonton ditegaskan kembali oleh Direktur Pendidikan Anak Usia Dini Kemendikbud, Muhammad Hasbi.

“Program sensor mandiri dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan literasi orang tua agar dapat mendampingi anak dalam menonton tayangan film kartun atau animasi. Program ini dapat dimasukkan dalam kelas-kelas parenting yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan anak usia dini,” ujar  Muhammad Hasbi. (*)

Komentar

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.