Lembaga Sensor Film
header

Perkembangan teknologi itu sebuah keniscayaan yang tak mungkin dihambat. Pun regulasi, biasanya selalu tertinggal beberapa langkah di belakang jika tak ingin dikatakan terseok-seok mengikuti perkembangan teknologi. Dalam konteks kekinian dunia perfilman, kita telah memasuki era digital, atau acapkali disebut sebagai era media baru.

Era ini tentu mengubah perilaku masyarakat dalam berinteraksi terhadap tontonan. Pertama, masyarakat dapat langsung berinteraksi dengan media digital tersebut, tidak hanya mengakses, tetapi juga membuat konten. Kedua, untuk menonton, kini tak lagi dibatasi ruang dan waktu.

Ketiga, medium yang digunakan untuk menonton pun sudah sangat mudah sepanjang terhubung dengan internet. Dan keempat, belum ada pengaturan (regulasi) spesifik tentang media baru, dengan argumen kita menganut open sky policy (kebijakan terbuka atau bebas untuk akses internet).

Kondisi ini membuat segala macam tontonan tersuguhkan secara bebas di internet. Ibaratnya satu keluarga yang terdiri atas bapak, ibu, dan anak-anaknya memasuki sebuah megastore atau swalayan besar. Di situ dipajang jutaan judul film, yang dengan leluasa dapat diakses, sedangkan kita tahu film memiliki pengaruh kepada penontonnya. Sudah seharusnyalah jika masyarakat mempunyai kapasitas dalam literasi publik agar dapat melakukan sensor mandiri.

Secara konseptual, sensor mandiri dapat diartikan sebagai upaya masyarakat untuk dapat memilah dan memilih tontonan sesuai klasifikasi usia. Tujuannya agar terhindar dari pengaruh negatif film. Senyampang menjalankan tugas pokok dan fungsinya untuk menyensor film, Lembaga Sensor Film (LSF) tentu memiliki obligasi moral dan struktural untuk menjadikan sensor mandiri sebagai sebuah gerakan.

Dalam ungkapan yang lebih lugas, Gerakan Sensor Mandiri dapat dikatakan sebagai sebuah gerakan untuk mendiseminasi informasi dan meliterasi publik agar masyarakat mampu memilah dan memilih tontonan sesuai klasifikasi usia. Dalam hal ini, LSF menyadari, program gerakan besar seperti ini tak mungkin dilakukan sendiri. Harus masif dan bekerja sama dengan seluruh pihak yang memiliki kepedulian sama.

Ke depan, LSF harus bersinergi dengan parlemen, kementerian, lembaga negara nonstruktural, komunitas film, organisasi kemasyarakatan, dan tentu saja mesti digaungkan menjadi Gerakan Nasional oleh Presiden Joko Widodo. Jika spektrum gerakannya sudah tingkat nasional, tentu hasilnya lebih optimal. @lsf

Komentar

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.